Menyusui bagiku adalah jalan setapak dalam merawat bayiku nanti, penantian 9 bulan serasa menyenangkan bagiku, bayangan akan hari-hari penuh keindahan saat menyusui membayangi setiap langkahku. saat hamil besar pun, saat HPL-ku tinggal 2 minggu aku tetap bersemangat untuk mengikuti pelatihan konseling menyusui bersama UNICEF, dinas kesehatan provinsi DIY dan sentra laktasi indonesia pun tetap ku ikuti demi ilmu dan semangat menyusuiku.
Saat hari kelahiran anak ku tiba, aku harus di ceasar, berat memang, tetapi ini yang terbaik bagiku dan anak ku. oprasi berjalan baik, aku tidak sabar menunggu anak ku dibawa padaku, menyusuinya, memeluknya dengan penuh cinta kasih, ku ingin memberinya cairan yang tergantikan. Rumah Sakit sardjito tempatku berharap mendapatkan kesempatan itu, ku labuhkan disana, karena Rumah sakit rujukan, dinobatkan sebagai rumah sakit sayang bayi, dan rumah sakit pendidikan, perpaduan yang ideal bagi semua ibu untuk berharap mendapatkan pelayanan ideal, karena disanalah salah satu tempat disemainya para calon dokter dan tenaga medis profesional di Indonesia.
saat aku meminta bayi ku dibawa ke tempatku, diluar dugaanku, sang perawat mengatakan "ibu kan lagi di infus, paling tidak ibu harus istirahat 3 hari sampai ibu bisa makan dan minum". padahal aku dalam keadaan fit dan siap menyusui anakku. aku hanya mampu menghela nafas, seorang dokter PPDS (program pendidikan dokter spesialis) anak mendatangiku dan sekali lagi minta dia untuk membawakan anakku kesini, dengan penuh senyum dia mengatakan "nanti akan saya minta perawat mengantarkannya ke ibu yah". aku pun mengangguk dan menunggu penuh harap.
tapi ku tunggu lama pun bayiku tak kunjung tiba, entah apa yang mereka lakukan pada bayiku disana, entah apa motivasi mereka menghalangiku menyusuinya. yang jelas, aku belum menyusui bayiku yang ku tunggu-tunggu selama ini. sedih, pahit, sebel, marah, berkumpul jadi satu.
ku coba menelpon dokter obgyn di dari rumah sakit permata bunda, aku bercerita bahwa aku ingin sekali menyusui, aku berharap dia dapat membantuku, tapi itu pun tidak berhasil. semua sia-sia.
Saat aku mulai memaksakan diri untuk miring, sedikit belajar duduk mereka pun berdalih lain, bahwa aku belum boleh menyusui. aku bingung, benar-benar bingung, menyusui itu harus orang sehat dan bugar, menyusui itu husus untuk orang yg bisa bangun dan berdiri, menyusui itu untuk ibu yang melahirkan normal, tidak untuk ku yang melahirkan ceasar, tidak untukku yang tidak bisa duduk dengan baik dan miring dengan sempurna. aku benar-benar lelah.. padahal aku yakin bahwa aku mampu menyusui, aku merasa sangat sehat.
Ku coba berfikir positif, mungkin mereka kekurangan tenaga, akan tetapi aku datang ke rumah sakit tidak sendirian, ada suamiku, ada ibuku dan keluargaku disini menemaniku, kenapa tidak mereka meminta tolong mereka membawakan bayiku padaku. kenapa? kenapa?
sampai suatu saat aku diantar suamiku mendatangi tempat perawatan bayiku, tidak sabar lagi aku ingin memeluknya, serasa ingin aku berlari, berlari sekencang-kencangnya mendatanginya. ku lihat wajah imutnya, dengan sepontan aku bertanya lirih pada perawat "boleh saya tahu, anak saya dikasih apa?" dengan judes perawat menjawab "kenapa kok tanya-tanya segala?" sakit sekali hatiku mendengar jawaban perawat itu. ingin ku bentak dia dan ku katakan "ini anak ku, aku harus tahu apa yang kau berikan padanya". tapi urung, aku hanya menjawab lirih, "ini anak saya, bolehkah saya mengetahui apa yang telah ibu berikan padanya". perawat itu pun menjawab "susu formula ***". serasa seperti ku dengan petir menyambar di telingaku, serasa aku ditampar di depan umum, serasa aku tidak percaya mendengarnya.
perlahan air mataku menetes, sedih sekali.. setelah aku tidak diberi kesempatan untuk IMD, aku pun tidak diberi kesempatan memberikan cairan hidup pertamaku. aku benar-benar merasa hak asasi menyusuiku di injak-injak, aku merasa tidak dihargai oleh sardjito, aku merasa hak ku dirampas oleh sardjito, dan aku pun hanya bisa mengeluh, mengeluh dan mengeluh.
pertanyaanku, akankan mereka para perawat dan dokter di sarjito tidak pernah merasa punya anak? apakah mereka memang tidak pernah merasakan betapa penantianku begitu panjang untuk dapat melihatnya? apakah mereka tidak pernah merasakan itu? butakah hati mereka mendengar tangisan bayi meminta ibunya? butakah mereka melihatku berharap sangat ingin menyusuinya? apa hati mereka memang sudah tertutup?. semoga mereka membaca tulisanku dan tersadar, lalu mengadakan perbaikan sehingga bayi lain tidak merasakannya.
 | Kurang ajar tuh.. Aku dulu juga cesar, jam 12 mlm cesar, jam 6 pagi bayi diantar keruanganku untuk menyusu. dibantu suster juga, karena aku belum boleh miring, jd bayinya ditempelin/diletakkan diatas dadaku, dan kami memeganginya selagi ia menyusu. Jadi tak ada alasan cesar tidak boleh menyusui.. |
 | babroedz wrote on Mar 30, '09, edited on Mar 30, '09 astagfirullah... sabar yah mom:( 8 sept 2008...aku caesar. SC jam 12 mlm, selesai jam 3 pagi. walaupun ngga rooming in [rawat gabung] dan IMD, tapi alhamdulillah rata2 suster di RSIB tempatku dirawat mendukung ASI. walaupun ngga tiap jam, tapi Lana diantar ke kamarku utk disusui... 9 sept 2008, aku udah bisa duduk n jalan. minta copot infus tapi blm boleh. 10 sept 2008, setelah si infus dibebastugaskan, aku mandi n lsg ke kmr bayi. aku yakin sih pasti Lana jg dikasih sufor. tapi setelah aku udah ngga infus aku bertekad utk sesering mngkn nyusuin Lana.. sejak itu, aku bolak balik ke kamar bayi...ada jg suster yg bilang, "wah ibu, rajin amat [dengan nada menyindir...], kan bayinya masih bobo." tapi aku cuek aja. dengan sopan aku bilang klo aku mo nyusuin baby. Lama2 bosen jg tuh mereka nanya2 or bahkan ada yg bilang terang2an "JANGAN"
sabar yah mom... toh klo udah pulang dari RS kan masih ada kesempatan sampai 2 thn utk nyusuin baby... maaf klo ada yg kurang berkenan n jadi kepanjangan.. tetap SEMANGAT ASI yah...CAYOO!! \ ( ^_^ ) / |
|
Air Susu Ibu,
hadiah sangat berharga yang dapat diberikan orang tua pada bayinya.Pada keadaan miskin, mungkin merupakan hadiah satu-satunya yg dapat diberikan.Pada keadaan sakit, dapat merupakan pemberian yang menyelamatkan jiwanya.
|